Minggu, 13 September 2015

Malva

Malva, gadis yang seperti bulan - cantik, penurut dan sepi. Sinar matanya teduh melebihi keteduhan pohon beringin tua yang bertahan dari kering kemarau. Di telinganya bergayut anting lumba-lumba dari logam yang dibakar. Malva tak pernah bicara lagi sejak hujan bulan Juni benar-benar pergi. Ia tidak bisu. Semua tau bahwa sebelumnya, Malva seceria peri hutan yang selalu menari riang menyambut matahari.

"Malva.. bicaralah, nak.. katakan sesuatu.." Aba, pria berambut hitam keperakan itu mengusap punggung Malva lembut. Seolah dengan gerakan tangannya, tergerak pula ingin Malva berbicara.

Malva bergeming. Bahkan matanya tak berkedip sama sekali. Pandangannya kosong seperti lampu kota di kejauhan.

Detik detik rasanya begitu lama. Aba menahan sekuat hati untuk tidak menangis. Agar Malva tak mendengar isaknya. Agar Malva tidak lebih bersedih dari kehilangan beruntun yang mengambil separuh jiwanya.

Malva. Hidup tak menyajikan pilihan, kau tau itu.






Selasa, 09 Desember 2014

Pria yang Membuang Botol Kosong Sebelum Pulang

Apa yang membuatmu tertarik pada seseorang?

Yes! Attitude!

Di sebuah tempat, dimana memarkir motor berarti merelakan dua ribu rupiah dan kopinya membuat perut sedikit panas, untuk kelima kalinya saya mengalami semacam De Javu.

Rasanya bukan De Javu. Semacam sensasi unik. Ketika kita baru kali itu bertemu dengan seseorang namun seperti orang ini akan kita temui lagi di kemudian hari. Dan perasaan itu begitu kuat. 

Ada banyak pria di situ, dengan laptopnya masing-masing. Sebagian dari mereka bersama yang lain, sebagian lagi sendiri. Sebagian dari yang bersama orang lain dan sendiri itu, merokok. Tentu saja di smoking area, siapapun bebas membakar rokok pada ujungnya dan menghisap ujung yang satu lagi.

Di kursi sebuah meja yang menghadap ke barat, seorang pria berkaos hitam duduk dengan laptop di depannya. Sebuah botol air mineral seharga enam belas ribu berdiri tak seberapa jauh dari MacBook-nya, bersanding dengan smartphone yang kotak dan tipis. Sepertinya seri high end dari Sony. Tidak ada lagi benda di atas meja itu. Bersih dan rapi. Dan tampaknya pria ini membenci rokok.

Saya duduk di meja sebelah kanannya. Sendirian. Menulis outline Cinta yang Seperti Itu. Dan seperti biasa, hampir setiap orang yang ada di situ tidak memperhatikan yang lain. Sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Sibuk dengan gelas atau rokoknya sendiri. Saya pun sibuk dengan papan ketik dan awan awan imajinasi di kepala. Sampai suatu detik, pria di sebelah berdiri. Mencabut kabel pengisi daya ponsel dan memasukkan MacBook-nya ke dalam tas selempang besar. Satu hal yang mengejutkan kemudian adalah ia meninggalkan meja dalam keadaan bersih. Botol air mineral seharga enam belas ribu yang sudah kosong itu dibawanya di tangan kiri, dan sambil berjalan keluar, membuangnya ke tempat sampah.

Mengejutkan bagi saya, seorang pria membuang botol kosong sebelum pulang. Ia tidak ganteng - setidaknya bukan tipe saya-, tapi ia seorang yang memiliki attitude baik. Dan attitude baik adalah sesuatu yang mendefinisikan kata 'keren' dalam kacamata saya. Pria itu pun berlalu dengan motor sport merahnya. Dan baru sehari kemudian saya tau bahwa ia adalah seorang penulis yang sangat produktif.

Seperti yang guru saya berulang katakan. Guru akan datang ketika murid siap. Dalam hal yang hanya saya yang memahami, ia adalah guru saya.

How lucky i am to meet him :)

Kamis, 10 Juli 2014

Belajar dari Pilpres 2014

ditulis oleh Kafil Yamin
pada 10 Juli 2014 1:56

ADA yang lebih penting dari kemenangan dalam Pilpres ini, paling tidak bagi saya, yakni anak-anak muda Indonesia terutama, bisa belajar berpartisipasi politik yang baik. Sehingga kehidupan politik Indonesia adalah politik yang bermoral; sehingga generasi muda Indonesia adalah generasi berjiwa besar; bertenggang rasa; punya solideritas yang tinggi; generasi yang bermartabat.

Tadinya saya berharap anak-anak muda Indonesia bisa belajar dari tokoh-tokoh politik yang sekarang manggung. Tapi, melihat kenyataan politik hari ini, harapan itu masih jauh. Apa boleh buat.

Tadinya saya berharap tokoh-tokoh politik yang sekarang manggung itu bisa memberi tauladan; organisasi dan kelompok politik bisa memberikan pendidikan politik yang baik. Harapan itu juga masih jauh.

Banyak dari generasi muda Indonesia, lebih tertarik pada eforia adu kekuatan, provokasi, hujatan, caci-maki, bukan pada mengembangkan kemampuan nalar, analisis, penilaian yang matang.

Tapi bagaimana generasi muda bisa demikian bila yang mereka lihat adalah politisi dan kelompok politik yang hanya memperlihatkan nafsu berkuasa? Dan untuk itu mengeksploitasi sentimen massa? Sayangnya, emosi kebanyakan kita mudah diekspolitasi, mudah dipermainkan.

Kaum ‘intelektual’, akademisi, lebih menonjolkan kemampuannya dalam mencari kesalahan dan cacat orang lain. Dan para politisi, lebih banyak unjuk kekuatan ketimbang unjuk kebijaksanaan dan kecintaan kepada bangsa. Mereka lebih tampak sebagai anak-anak yang saling menunjukkan ‘siapa saya’, ‘siapa kami’. Sedikit sekali di antara mereka yang bisa jadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk membangun dan mengembangkan kepribadian yang luhur.

Senin, 30 Juni 2014

Apa Kabar Matahari?


Apa kabar Matahari?
Tiba tiba teringat olehku tentang Anak Musang kebingungan dan Serigala Tua kelaparan..
Apakah kau juga mengingatnya? 


Aku telah mengirimkan telegram ke alamatmu subuh tadi..
Bacalah setelah sempat, meski tanpa secangkir kopi.

.
.

Kamis, 26 Juni 2014

Perbawa Prabowo

MESKI saya wartawan, saya tak pernah berjumpa langsung dengan Prabowo. Dengan sejumlah jenderal lain pernah. Karena itu, pengetahuan saya tentang Prabowo Subianto – saya kira pengetahuan kebanyakan orang – berasal dari sumber-sumber kedua atau ketiga. Misalnya dari media yang mengutip beberapa pernyataannya. Dan media itu mengutip pula dari media lain. Atau dari cerita sesama wartawan. Kebanyakan menjelaskan salah satu sisi pribadinya. Dan sisi itu yang itu-itu juga: Jenderal pelanggar HAM, anti asing, penculik aktivis.

Maka, yang tergambar di kepala saya adalah seorang yang otoriter, menakutkan, tinggi hati.
Sejak lama, Prabowo memang bukan figur kesayangan media, seperti sejumlah tokoh lain. Lelaki yang suka berkebun ini hampir tak pernah menjadi narasumber wartawan untuk berita-berita politik, sosial atau budaya. Iya hanya dimintai komentar untuk isu-isu yang menyangkut citra kelabu dirinya.

Dan memang, Prabowo sendiri tak suka melayani wartawan. Ia bukan seorang pencitra diri. Ini pernah dikatakannya kepada seorang wartawan asing: “One of my weaknesses is dealing with the media, with the people like you [Salah satu kelemahan saya adalah berhadapan dengan media, dengan orang seperti anda].”

Rabu, 25 Juni 2014

Lima Bocah Kecil


Pernahkah kita meminta pada Tuhan untuk dipertemukan? 
Kurasa frekuensi sunyi memiliki caranya sendiri untuk menyatukan kawan kawan seperjalanan.. 

Kemudian seperti manusia keseluruhan, kita pun berputar di roda takdir tak terelakkan..

Ada masa kita melihat hidup sebagai lelucon.. dagelan.. opera sabun dan kita tertawa karena menyadari hal yang sama.. 

Ada masa kita menapaki sendiri apa yang orang lihat sebagi lelucon dan hal sulit dipercaya lainnya.. 

Ada masa kita menengok jauh ke dalam diri, sudah kah kita berbuat yang terbaik untuk Nusantara...

Ada masa kita menenggelamkan diri pada kesimpangsiuran kabar yang berseliweran memadati udara.. memetik beberapa sumber terpercaya dan mengkajinya dengan berbagai keterbatasan.. 

Ada masa kita saling diam.. bukan diam ketidakpedulian tapi diam karena tidak ada lagi yang bisa kita tertawakan.. 

Lalu tiba-tiba saja, seperti tersadarkan dari terlena oleh musik yang membawa ke kondisi alpha.. kangen ini membuncah memenuhi jantung.. 
Adakah kalian merasakan yang sama, duhai kawan seperjalanan?


Waktu berlari begitu cepatnya.. apa kabar 'lima bocah kecil' yang beranjak menua? 
Rambut putih di kepalaku sudah ada sebelas.. kapan kita ngopi bareng? 
Aku beneran kangen...  

.

Para Pendukung Jokowi

Jadi tadi sore saya berbincang dengan seorang teman di salah satu media sosial. Dia berkata, semula ia hendak memilih Jokowi, tetapi karena kesal pada kelakuan para pendukung beliau di media sosial, dia justru akan memilih Prabowo. Bukan karena dia percaya pada visi Prabowo, bukan karena dia tidak menyukai program-program Jokowi; sekedar karena kesal (dan ingin membuat kesal) para pendukung Jokowi.

Ini bukan kali pertama seseorang menyampaikan hal seperti itu kepada saya. Beberapa orang pernah menyampaikan hal yang sama. Warga negara Indonesia dewasa dengan latar belakang pendidikan tinggi serta pekerjaan mapan dengan alasan kuat atas pendapatnya. Inti ucapan mereka sama, mereka adalah pendukung Jokowi yang terdorong untuk memilih Prabowo akibat kesal pada kelakuan fans garis keras Jokowi. Saya tidak tahu berapa banyak lagi yang berpendapat seperti mereka di luar sana.

Saya pun pernah sampai di suatu titik di mana saya lebih baik memilih Prabowo daripada harus berada di satu kubu dengan para pendukung fanatik Jokowi. Saya di sini akan terbuka, semenjak pengumuman resmi Capres-Cawapres saya cenderung lebih mendukung Jokowi. Tapi saya tidak pernah memandang sosok beliau sebagai sosok yang 100% sempurna.