Minggu, 13 September 2015

Malva

Malva, gadis yang seperti bulan - cantik, penurut dan sepi. Sinar matanya teduh melebihi keteduhan pohon beringin tua yang bertahan dari kering kemarau. Di telinganya bergayut anting lumba-lumba dari logam yang dibakar. Malva tak pernah bicara lagi sejak hujan bulan Juni benar-benar pergi. Ia tidak bisu. Semua tau bahwa sebelumnya, Malva seceria peri hutan yang selalu menari riang menyambut matahari.

"Malva.. bicaralah, nak.. katakan sesuatu.." Aba, pria berambut hitam keperakan itu mengusap punggung Malva lembut. Seolah dengan gerakan tangannya, tergerak pula ingin Malva berbicara.

Malva bergeming. Bahkan matanya tak berkedip sama sekali. Pandangannya kosong seperti lampu kota di kejauhan.

Detik detik rasanya begitu lama. Aba menahan sekuat hati untuk tidak menangis. Agar Malva tak mendengar isaknya. Agar Malva tidak lebih bersedih dari kehilangan beruntun yang mengambil separuh jiwanya.

Malva. Hidup tak menyajikan pilihan, kau tau itu.






1 komentar:

  1. Momiii... Lama tidak bersua :D
    Lagi sibuk apa sekarang?
    Ada rencana nulis buku anak-anak lagi?

    BalasHapus