Selasa, 09 Desember 2014

Pria yang Membuang Botol Kosong Sebelum Pulang

Apa yang membuatmu tertarik pada seseorang?

Yes! Attitude!

Di sebuah tempat, dimana memarkir motor berarti merelakan dua ribu rupiah dan kopinya membuat perut sedikit panas, untuk kelima kalinya saya mengalami semacam De Javu.

Rasanya bukan De Javu. Semacam sensasi unik. Ketika kita baru kali itu bertemu dengan seseorang namun seperti orang ini akan kita temui lagi di kemudian hari. Dan perasaan itu begitu kuat. 

Ada banyak pria di situ, dengan laptopnya masing-masing. Sebagian dari mereka bersama yang lain, sebagian lagi sendiri. Sebagian dari yang bersama orang lain dan sendiri itu, merokok. Tentu saja di smoking area, siapapun bebas membakar rokok pada ujungnya dan menghisap ujung yang satu lagi.

Di kursi sebuah meja yang menghadap ke barat, seorang pria berkaos hitam duduk dengan laptop di depannya. Sebuah botol air mineral seharga enam belas ribu berdiri tak seberapa jauh dari MacBook-nya, bersanding dengan smartphone yang kotak dan tipis. Sepertinya seri high end dari Sony. Tidak ada lagi benda di atas meja itu. Bersih dan rapi. Dan tampaknya pria ini membenci rokok.

Saya duduk di meja sebelah kanannya. Sendirian. Menulis outline Cinta yang Seperti Itu. Dan seperti biasa, hampir setiap orang yang ada di situ tidak memperhatikan yang lain. Sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Sibuk dengan gelas atau rokoknya sendiri. Saya pun sibuk dengan papan ketik dan awan awan imajinasi di kepala. Sampai suatu detik, pria di sebelah berdiri. Mencabut kabel pengisi daya ponsel dan memasukkan MacBook-nya ke dalam tas selempang besar. Satu hal yang mengejutkan kemudian adalah ia meninggalkan meja dalam keadaan bersih. Botol air mineral seharga enam belas ribu yang sudah kosong itu dibawanya di tangan kiri, dan sambil berjalan keluar, membuangnya ke tempat sampah.

Mengejutkan bagi saya, seorang pria membuang botol kosong sebelum pulang. Ia tidak ganteng - setidaknya bukan tipe saya-, tapi ia seorang yang memiliki attitude baik. Dan attitude baik adalah sesuatu yang mendefinisikan kata 'keren' dalam kacamata saya. Pria itu pun berlalu dengan motor sport merahnya. Dan baru sehari kemudian saya tau bahwa ia adalah seorang penulis yang sangat produktif.

Seperti yang guru saya berulang katakan. Guru akan datang ketika murid siap. Dalam hal yang hanya saya yang memahami, ia adalah guru saya.

How lucky i am to meet him :)

1 komentar:

  1. Hari ini pertama kali nemu blog mbaknya.. dan sukak banget mbak :)
    tulisannya santai dan jujur banget

    BalasHapus