Selasa, 06 Mei 2014

Dalam Mata Terpejam


Jalanan subuh ini terlihat lengang. Dari tadi hanya ada satu motor yang tampak tergesa membonceng seorang pria dengan ransel besar di punggungnya. Mungkin ia harus segera tiba di Bandara untuk jadwal pemberangkatan dengan pesawat paling pagi. Aku mengambil jalan berbelok ke utara. Gunung Merapi yang mahsyur itu berdiri gagah di batas penglihatanku. Sesungguhnya ia adalah bagian dari keseimbangan alam. Yang pula kerap menjadi kambing hitam atas rasa menderita manusia yang menatap hidup dengan dagu mendongak dan leher kaku dicengkeram keinginan.

Lima meter di depan, sepasang pria dan wanita tua berjalan tertatih. Siapalah aku menarik simpul dari apa yang kulihat sekejap. Yang kupahami dari bagaimana nenek berkerudung biru tua itu berusaha menopang langkah kakek yang sama renta-nya, mereka tak tampak seperti dua melainkan satu. Tak terasa air mataku meleleh. Ada sepotong besar gambar hidup dalam memoriku, seseorang dengan tangan berkeringat menggenggam tanganku erat. Ia berjalan di depanku sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia yang berjiwa lebih sunyi dari subuh. Ia yang menahan derita lebih gagah dari gunung.

Dadaku terasa nyeri sebab tangis yang kutahan selama hampir tiga tahun berjalan. Begitu lama air mataku tak mengalir sederas ini. Mengingat kembali apa yang pernah engkau katakan padaku di suatu senja, ketika kita duduk di peron stasiun menunggu kereta yang akan membawamu kembali ke Batavia.

"Belahan jiwaku adalah dia yang lahir saat sinar matahari masih berupa kuncup, dan dengan tangisannya membuat orang-orang menjadi takjub, lalu takut kehilangan. Orang asing yang berasal dari diriku, seseorang dengan detak jantungnya sendiri. Dia yang mengambil waktu dua puluh tahun untuk membuat sejarahnya, hingga saat bertemu denganku, tanpa perlu bertanya sanggup memahami jalan hidupku"

Seperti yang Nenek Rose katakan dalam film Titanic dimana cinta berakhir begitu menyedihkan, "Hati seorang wanita adalah lautan penuh rahasia". Begitu pun hatiku. Butuh nafas sepanjang garis imajiner yang menjadi jalur tempuh Pluto untuk sekedar menyelam dan memahami.

Air mata yang jatuh ini adalah saksi, dari bahasa hati yang tak mampu disampaikan oleh sekatup bibir satu satunya milikku. Bibir yang akan tetap mengatup saat kedua tanganku menyeduh secangkir cokelat panas untuk lelahmu. Kemudian setelah menghabiskan setengahnya, engkau akan meletakkan kepala di pangkuanku dan mengurai segala hal yang menggumpal di dada. Cerita yang berulang kali kudengar seperti dongeng.. yang tak perlu ditanyakan kebenarannya.  



Dalam mata terpejam : dan kenangan perlahan berenang ke permukaan.. seperti segerombolan Orca di lautan dengan berkas sinar matahari yang pergi menjauh...