Selasa, 18 Februari 2014

Seorang Pria dan Secangkir Espresso

Abu tipis masih menyelimuti permukaan meja yang kupakai menulis. Ada sekitar sepuluh kursi yang masih kosong di sini ketika seorang pria berkemeja abu-abu masuk dan melepas kaca mata hitamnya.

“Espresso”

“…ditambah sandwich, Pak?”

“Espresso!”

Pria itu mengulangi pesanannya dengan menekan intonasi sedikit lebih dalam.

Dengan cekatan Barista manis ber-headscarf  hijau pupus membuatkannya secangkir espresso. Pria itu berjalan menuju wastafel.. mencuci kedua tangan.. dan membasahi wajahnya.

....

“Apa kamu tidak terganggu kalau saya duduk di sini?”

Pria itu menarik kursi di depan meja yang kupakai menulis, kemudian meletakkan cangkir espresso-nya.

Aku diam. Mencermati setiap geraknya. Seperti sebuah irama musik hip hop yang diputar amat pelan.  

“Kamu pasti punya seseorang yang dicintai..” kata Pria itu tiba-tiba,setelah menyesap espressonya seteguk.

Aku tetap mengunci bibirku.. dan menatap kedua matanya yang tajam. Alisnya begitu hitam.. cambang tercukur rapi membingkai wajahnya dengan sempurna. Hidung khas timur tengah dan sepasang bibir biru tua.

“Mustofa..”  tangan kanannya terulur melewati tepi atas layar laptop, tepat di depan daguku.

Sedetik… dua detik… kubiarkan tangan itu.

Pada detik ketiga aku menyambut uluran tangannya.

“Kuliah di sini hanya akan menunda perjodohan.. bukan menghindarkanmu darinya..”

....

“So.. saya temukan debaran jatuh cinta itu di sini, di secangkir espresso..”

“… dan akan terus menerus meminumnya sampai benar-benar jatuh cinta?”

“..e hemm..” Mustofa meminum cepat espressonya sampai habis. Kemudian melepaskan gulungan lengan kemeja abu-abunya dan berdiri..

“Saya akan datang lagi ke sini dua puluh dua jam dari sekarang.. Kalau saya temukan kamu di sini, saya akan berhenti memesan espresso..”




Kita bisa saja tertarik pada seseorang dalam sepersekian detik. Tapi tidak untuk jatuh cinta...