Suatu siang di musim hujan, ketika langit
tampak seperti ibu yang begitu saja melepaskan bayi bayi air berlompatan
ke tanah yang kupijak.., darah menetes dari hidungku. Tak sebanyak
hujan memang, tapi cukup membuatku harus berhenti sejenak dan
mendapatkan sedikit suasana santai.
Ini sudah yang kesekian kali sejak dua kali
tahun berganti. Sesuatu terjadi di dalam tubuhku.. Aku tahu bahwa aku
mungkin terlalu banyak bermain-main dengan setitik kemungkinan di dalam
sebelanga kemustahilan. Dari semua wajah yang ada, sebagian tetap
menyimpan misterinya sendiri, yang selamanya akan tetap bisu..
Kuhabiskan secangkir cokelat panas lalu
merebahkan kepala di atas sandaran kursi. Dan kunikmati tangan Tuhan
yang membelai keningku..
.
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar